Minggu, 07 September 2008


Ulat Sagu
pesta budaya papua 03Selain ikan dan daging, sumber protein lainnya adalah ulat sagu. Ulat ini hidup di batang sagu yang telah busuk. Mereka dimakan dengan cara dibakar atau dibuat sambal ulat sagu yang pedas dan asam menyegarkan. Tapi menurutnya ulat sagu dapat juga dimakan mentah atau hidup-hidup. Sedikit heran tapi penasaran juga.

Tiba-tiba saya mendapat kabar dari seorang teman dari Jayapura, yang membawakan ulat sagu hidup. Gayung bersambut, dengan semangat saya menghampirinya. Ulat sagu hidup ini bentuknya sangat lucu. Badannya gendut berwarna putih, sedangkan kepalanya berwarna coklat tua. Kalau berjalan ia terlihat seperti sedang menari perut. Melihatnya saya teringat pada kue gendhu yang berasal dari Jawa Tengah. Pertama kali saya memakannya dengan

perasaan was-was. Setelah digigit di dalam mulut, mengalir juice dari dalam ulat yang terasa manis dan kulitnya yang renyah. Rasanya mirip dengan buah lengkeng dan tekstur kulitnya mirip dengan buah leci atau rambutan. Ulat-ulat berikutnya tidak ada lagi perasaan was-was, tinggal lep!

Apa yang ada di dalam Pesta Budaya ini hanyalah sebagian kecil dari kebudayaan dari provinsi yang memiliki kekayaan alam terbesar di Indonesia ini. Masih banyak buah-buah kebudayaan yang harus dilestarikan dan diperkenalkan kepada orang-orang yang hidup di luar Papua. Sayang kalau dibiarkan hilang begitu saja. Tidak percaya? Coba datang dan buktikan sendiri. Text: Andreas Setiadi, Photos: Ristiyono

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda